Satra.org
Perhatian mengenai kebudayaan bukan hanya sebuah keharusan, namun sebenarnyalah merupakan sebuah kebutuhan. Jejak-jejak peninggalan budaya bangsa tetap harus dijaga ketersediaannya untuk dimanfaatkan di masa kini. Perkembangan ilmu pengetahuan dan akses dalam bidang tersebut juga perlu disediakan.Rasa terima kasih yang tulus tersampaikan untuk Yayasan Sastra Lestari yang menyediakan keperluan itu untuk dapat diakses masyarakat luas melalui www.sastra.org. Ilmu pengetahuan yang dihidangkan dan layanan berupa digitalisasi naskah, Babad, Suluk, Wulang, Serat, serta artikel-artikel dari masa lalu yang sangat berharga. Tidak ketinggalan pula laman leksikon yang berfungsi sebagai kamus. Layanan kamus online ini memiliki kelebihan dari kamus online lain, yakni disertakannya sumber kamus yang dikutip. Satu entri kata memuat arti dari beberapa kamus yang terpercaya untuk dijadikan rujukan ilmiah. Selain itu, ada pula layanan aksara Jawa.
Seluruh layanan dari sastra.org sangat berjasa dalam proses mempelajari budaya sendiri. Keduanya adalah pintu gerbang pengetahuan yang dihasilkan dan disimpan dari bumi Jawa.
Salam budaya,
Semangat menjelajah.
Batik Motif Ulat Bulu: Motif Batik sebagai Media Penyimpanan Pesan
- Ceremonial: pada upacara-upacara adat baik di lingkungan keraton maupun di kalangan masyarakat umum, batik digunakan sebagai pelengkap. Pada lingkungan keraton, penggunaan batik dalam upacara adat berorientasi pada penghormatan yang penuh dedikasi terhadap raja sebagai penguasa tertinggi.
- Ritual: pada upacara ritual, batik berperan sebagai bagian sesaji yang ditujukan atau dipersembahkan kepada penguasa atau penghuni lingkungan yang diberi sesembahan. Maksudnya agar masyarakat selalu mendapat keselamatan dan bebas dari malapetaka.
- Historis Kultural: pada masa lampau masyarakat menggunakan kain batik juga mempertimbangkan tentang latar belakang sejarah terjadinya ragam hias serta nilai filosofisnya. Dengan mengetahui latar belakang sejarah dan nilai filosofisnya, maka masyarakat akan dengan lebih mantap memilih menggunakan motif tertentu. Beragam motif batik bagi masyarakat memiliki makna filosofis tertentu. Penggunaan batik dengan motif tertentu dipilih dengan mempertimbangkan nilai filosofisnya. Contohnya motif Parang Rusak dilarang digunakan dalam upacara pengantin, karena melambangkan kerusakan dan kesengsaraan[1].
- Ornamen yang berhubungan dengan daratan, ornamen “meru” melambangkan gunung, bumi, atau tanah.
- Ornamen yang berhubungan dengan udara, ornamen burung sebagai lambang dunia atas atau udara (kadang-kadang digambarkan dengan binatang terbang: kupu-kupu), ornamen garuda atau rajawali adalah lambang matahari atau tata surya.
- Ornamen yang berhubungan dengan laut atau air, seperti ular, ikan dan katak, atau baita (kapal laut). Jenis ornamen tersebut kemungkinan besar ada hubungannya dengan paham Triloka atau Tribawana. Paham tersebut adalah ajaran tentang adanya tiga dunia; dunia tengah tempat manusia hidup, dunia atas tempat para dewa dan para suci, serta dunia bawah tempat orang yang jalan hidupnya tidak benar/dipenuhi angkara murka.
- Ornamen lidah api melambangkan api, agni, geni, atau dewa api, Batara Brama, lambang yang sakti, lidah api digambarkan berbentuk cemukiran.
- Ornamen Pusaka (pusaka keraton) digambarkan dengan tombak. Maknanya adalah daru atau wahyu, lambang kegembiraan dan ketenangan.
- Ornamen dampar atau tahta, atau singgasana sebagai lambang kekuasaan. Kekuasaan yang adil sebagai pelindung rakyat. Raja dianggap sebagai penjelmaan dewa yang memiliki kesaktian.
- Selain makna tersebut motif Semen Rama seringkali dihubungkan dengan cerita Ramayana yang sarat dengan ajaran Hastha Brata atau ajaran keutamaan melalui delapan jalan. Ajaran ini adalah wejangan keutamaan dari Ramawijaya kepada Wibisana ketika dinobatkan menjadi raja Alengka. Jadi Semen Rama mengandung ajaran sifat-sifat utama yang seharusnya dimiliki oleh seorang raja atau pemimpin rakyat[2] .
![]() |
http://arsipberita.com/show/ribuan-ulat-bulu-nempel-di-batik-malang-201905.html
dengan proses editing.
|
Daftar Pustaka
MATA PENCAHARIAN SUKU DAYAK DI KALIMANTAN TENGAH DAN SUKU JAWA
Berdasarkan Koentjaraningrat. 1971. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta: Penerbit Djambatan.
Mata pencaharian adalah salah satu unsur kebudayaan. Mata pencaraharian atau pekerjaan masyarakat tidak dipilih secara sembarangan. Terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi jenis pekerjaan yang dipilih. Faktor tersebut diantaranya adalah tempat tinggal yang berhubungan dengan kondisi geografis atau kondisi alam, dan juga terhubung dengan kepercayaan-kepercayaan masyarakat. Untuk lebih mengerti mengenai penjelasan ini, maka baiknya perlu diadakan perbandingan matapencaharian antar masyarakat yang terdapat pada lokasi dan kebudayaan yang berbeda.
1. Mata Pencaharian Suku Dayak di Kalimantan Tengah
Kalimantan memiliki landasan tanah yang terdiri dari karang padas, dan lapisan tanah humus yang tipis, sedang daratannya berupa hutan. Dengan penduduk yang tidak begitu padat.
Berladang menjadi salah satu pilihan mata pencaharian masyarakat suku Dayak. Pekerjaan ini membutuhkan banyak tenaga. Sehingga pengerjaannya dilakukan oleh kelompok yang biasanya berdasarkan hubungan tetangga atau kekerabatan. Jadi bisa dibilang sistim mata pencaharian ini berhubungan juga dengan kehidupan sosial diantara anggota suku. Dalam berladang, diperhatikan pula tanda-tanda alam alam, yang salah satunya dengan cara memperhatikan hewan liar. Perhatian terhadap tanda-tanda alam ini salah satunya adalah terkait dengan waktu yang tepat untuk membuka lahan, atau mengolahnya, disesuaikan dengan musim yang menentukan curah hujan.
Tanaman yang ditanam rupanya sesuai dengan kebutuhan. Diantaranya adalah padi enam bulanan, padi empat bulanan, dan padi ketan yang merupakan kebutuhan dalam upacara adat. Salah satu upacara adat yang dilakukan adalah pada saat buka lahan. Tujuannya untuk menambah kesuburan tanah, menolak hama, dan mengusahakan hasil bumi yang berlimpah. Selain itu ditanam juga ubi kayu yang bukan hanya dikonsumsi ubinya, tapi juga daunnya untuk lauk pauk. Satu lagi yang sangat penting adalah pohon pinang, karena masyarakatnya baik perempuan maupun laki-laki gemar makan sirih dan pinang. Setelah tanah lahan tidak lagi baik, lahan ditinggalkan dengan menanam pohon karet untuk diambil manfaatnya kelak.
Selain berladang, terutama pada saat menunggu waktu membuka lahan, suku Dayak melakukan pekerjaan lain. Diantaranya adalah berburu, mencari hasil hutan, dan mencari ikan di sungai. Hasil pekerjaan yang dikenal masyarakat luar suku adalah barang-barang hasil anyaman.
2. Mata Pencaharian Suku Jawa
Tanah Jawa memiliki banyak gunung berapi yang menghasilkan tanah dengan sedimentasi bahan vulkanis sehingga tanah menjadi subur. Daerah ini memiliki kepadatan penduduk yang tinggi.
Mata pencaharian pokok pendudu desanya adalah bertani. Jenis tanaman utamanya adalah padi. Namun pada waktu kurang tersedia air untuk mengairi sawah, maka ditanam kedelai dan kacang brol. Tentang kepemilikan tanah, tidak semua orang memiliki tanah. Sawah dapat diolah sendiri oleh pemilik tanah, atau disewakan, atau dengan sistim bagi hasil. Sedangkan orang yang tidak memiliki tanah dapat menjadi buruh tani, menyewa, atau bekerja sama dengan pemilik tanah.
Sedangkan pekerjaan lain yang dapat dilakukan adalah mengolah hasil pertanian. Yang lainnya adalah membatik, menganyam, atau menjadi tukang kayu, tukang batu, dan pekerjaan-pekerjaan lain yang mungkin.
