Candrasengkala dalam Serat Centhini

Adalah perhitungan angka tahun berdasar peredaran bulan dimulai dari kata bernilai satu sampai sepuluh.

Makna:

1: rupa 'rupa', candra 'bulan', sasi 'bulan', lek 'bulan', nabi / wudel 'pusat', sasa 'bintang', dhara 'perut', bumi 'bumi, dunia, tanah', budha artinya luhung 'tinggi', ron 'daun', medi 'dubur', iku 'ekor', dara 'merpati', janma 'orang', awak 'badan', suta 'anak', siti 'tanah pasir', wani 'berani', wungkul 'tunggal, utuh', wulan 'bulan', temen 'sungguh'.

2: netra 'mata', caksu 'lubang mata, rongga mata', nayana 'air mata', sikara 'dua tangan', buja 'bahu', paksa 'rahang, sayap', drasthi 'kening', ama atau pasu 'tulang pangkal hidung', locana 'mata', carana 'anak rambut di pelipis, kaki', karna 'telinga', karni 'tanduk, daun telinga', anebah 'pelupuk mata', telingan 'pendengaran, telinga', mata atau netra 'mata', tangan 'tangan', lar 'bulu sayap', anembah 'menghormat, menyembah', suku 'kaki'.

3: bahni 'api untuk bekerja bagi pandai besi', pawaka 'api membara yang berasal dari puncak gunung berapi, siking 'api seludang atau api tali', teken 'tongkat' artinya guna, yaitu tangkai api, dahana yaitu api yang datang tanpa diketahui asalnya. Tri rana tunon artinya api di medan perang. Uta artinya lintah, ujel 'belut', nauti 'cacing', jatha 'taring'. Wedha berarti kitab hukum. Nalagni artinya panas hati. Utawaka yaitu api pemanggang. Kayalena yaitu api abu. Geni diyan 'api dian', tiga 'tiga'. Yang menyebabkan orang tahu sesuatu ialah api obor.

4: wedang artinya air panas. Sagara artinya air yang mengelilingi bumi. Karti artinya air sumur. Sukci ialah air dalam jun air suci. Jaladri artinya air rawa, nadi artinya air sungai. Her yaitu air yang bertempat di pucuk gunung. Nawa artinya air dingin yang jernih. Samudra artinya air tetes daun, air hujan gerimis. Waudadi mempunyai dua arti, yaitu air pancuran dan air sadapan yang menetes dari seludang kelapa atau enau. Sindu yaitu air susu. Warih adalah air kelapa. Adapun padon 'segi', empat jumlahnya. Tasik berarti laut atau air akar. Catur yuda artinya empat penjuru angin. Kata pat artinya empat.

5: buta artinya raksasa jantan yang bertaring. Pandhawa itu anak Endra, menurut hukum anak Pandhu. Darah, urat, hati, detik, kewaspadaan dan kelima musim itu sarana segala perbuatan. Adapun idera itu daya penglihatan. Yaksa adalah raksasa betina yang bertaring. Sara artinya tajam atau senjata. Maruta yaitu angin ribut. Gana yaitu hutan besar. Margana yaitu angin yang bertempat di jalan. Samirana yaitu angin penghapus keringat. Warayang artinya senjat. Panca artinya lima. Bayu artinya angin yang keluar dan masuk. Wisikan artinya ajaran ayah dalam usaha segala hal. Gulingan yaitu angin yang dikeluarkan demi sedikit. Lima artinya lima.

6: masa nem 'musim keenam'. Rasa ada enam, letak rasa sudah tetap tempatnya. Winaya yaitu nama musim enam dan labah-labah air. Gana artinya lebah. Retu artinya berkumpul dan berjejal. Anggas yaitu margasatwa. Kayu yaitu pohon tumbang. Oyag artinya bergetar, bergerak atau goyang. Karengya artinya terdengar. Rinengga artinya dihias. Enam rasa termasuk golongan kata bernilai enam. Tahen yaitu kayu tahun yang ditebang. Prabatang artinya kayu tumbang yang bergolek melintang jalan. Kilat itu ada enam, yaitu halilintar pada musim keenam. Lona artinya pedas, mla artinya kecut, tikta artinya pahit, kyasa artinya gurih, dura artinya asin, sarkara artinya manis.

7: ardi yaitu gunung sepanjang pantai. Prawata yaitu gunung yang bersambung dengan gunung di sepanjang pantai. Turangga yaitu kuda. Giri artinya gunung besar. Resi artinya pendeta suci. Angsa artinya banyak 'angsa'. Biksuka yaitu sapi 'lembu'. Cala yaitu kaki gunung. Imawan yaitu awan indah di puncak bukit. Sapta artinya tujuh. Pandhita artinya putus pengetahuan atau pandai. Swara artinya pendeta termashur. Gora artinya besar. Muni yaitu pendeta pengejar. Swa artinya kuda yang dikebiri. Tungganganing gunung artinya tengah-tengah bukit. Wiku yaitu pendeta di gunung yang berjumlah tujuh.

8: Naga yaitu ular besar. Panagan artinya tempat ular besar luar biasa. Salira yaitu menyawak 'biawak'. Basu yaitu tekek 'tokek' dan berarti pemuda negara serta nama musim kedelapan. Tanu artinya bunglon, murti artinya cecak. Kunjara yaitu nama gedung penjara dan kadang gajah. Gajah yaitu gajah pada wantilan 'tonggak pengikat'. Dipangga yaitu gajah yang sedang dikendarai raja. Enthi yaitu gajah berpelana. Samadya yaitu gajah di tengah hutan. Manggala yaitu gajah yang dibawa ke medan perang. Dwirada artinya gajah mabuk. Bujangga artinya ular jantan atau dua ular jantan dan betina.

9: trustha, yaitu lubang senapang. Trusthi ialah lubang demon. Muka artinya dai atau muka. Gapura yaitu pintu raja, wiwara yaitu pintu serambi, dwara artinya ruang tempat tinggal. Nanda yaitu liang katak besar. Wilasita yaitu liang kumbang. Guwa yaitu ruang pertapaan yang sepi. Lodra yaitu saluran air. Gatra yaitu liang riang-riang. Leng artinya liang semut. Rong yaitu liang ular. Song yaitu lubang landak. Trus yaitu pintu belakang atau pintu tembus untuk keluar melalui belakang rumah. Babahan yaitu lubang galian pencuri. Babahan hawa sanga yaitu sembilan lubang pada tubuh manusia.

10: boma yaitu rumput mati. Sunya artinya sepi. Gagana artinya langit yang dilalui awan. Barakan artinya tidak tampak, tidak berwujud. Adoh artinya jauh. Di langit ada sesuatu, tetapi tak terlihat atau tidak dapat dilihat dengan mata. Windu artinya pertemuan tahun. Di angkasa langit tertutup awan yang mengandung titik air. Widik-widik artinya langit, kadang-kadang kelihatan, kemudian hilang, meloncat kosong, semua yang dipandang hilang. Belalang kerjanya meloncat ke atas. Bunyi hos, berarti menghalau supaya pergij, maka bernilai sepuluh.

Bunyi kata-kata itu tertentu. Pertama-tama bagi satuan, kemudian puluhan dan seterusnya. Ucapan satuan jatuh pada akhir.

Di dalam kitab Candrageni yang berbentuk kakawin dengan tembang Kusumawicitra itulah keterangan tepatnya candrasengkala. Hitungannya duabelas. Tercertitakan, kitab tersebut karangan Empu Wilasaya, seorang pendeta besar yang berpengetahuan luas di negeri Purwacarita, atas kehendak raja Widhayaka yang terkenal dengan nama Aji Isaka.

Watak satu:

Rupa: artinya wujud, yaitu pancaran cahaya yang menjadi wataknya juga. Adapun cahaya itu menjadi tanda kehidupan bagi seluruh makhluk.

Candra: sebagai bulan purnama, tanggal lima belas yang menjadi wataknya, yakni sesuai dengan cerita kuna pada saat Dewi Sri turun dengan menyebarkan biji yang nantinya menjadi benih manusia.

Sasi Lek: bertambah menjadi pelengkap, yaitu hitungan sebulan penuh. Oleh karena itulah menjadi watak satu, bersatu seperti semula hingga terjadi rembulan (sitangsu), sekali lagi menjadi awal mula.

Nabi: artinya pusar/pusat (wudel; jw.), dipergunakan penyandi tanda pertama pada saat bayi sudah terlepas pusatnya, barulah diberi nama.

Sasa: artinya bintang, berwatak satu karena bentuknya yang tersebar di setiap penjuru satu-satu tampak dari bumi, dan namanya sama, yaitu bintang.

Dhara: berarti perut. Berwatak satu karena tugasnya menerima sari segala rasa yang pada hakekatnya satu.

Bumi: berarti tanah, tanah menjadi watak satu karena menyebabkan tumbuhnya segala macam biji tetumbuhan.

Buddha: berarti purus, 'urat zakar' atau unggul, yakni yang menjadi benih-biji manusia, itu sebabnya berwatak satu.

Ron atau godhong: berarti 'daun', awal mula cahaya daun berwatak satu karena daun merupakan tanda hidupnya segala tetumbuhan itu berarti bijinya hidup, dan jika daun tidak kelihatan berarti mati.

Medi jubur: artinya 'dubur', yaitu sebagai jalan keluar kotoran dari perut.

Buntut: 'ekor', dimaksudkan pangkal ekor, jelas hanya satu.

Dara: 'burung dara', yaitu burung yang terbiasa berlindung pada manusia, maka burung dara mempunyai watak satu.

Janma atau wong: 'orang', berlambang nilai satu, karena merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang utama.

Eka: 'tunggal, satu' atau kata bilangan yang menunjuk arti nilai satu. Sedangkan badan anak yang dimaksud ialah anak dan badan (tubuh) yang tunggal, berasal dari kejadian biji. Adapun 'tanah pasir' termasuk golongan kata yang memang demikianlah wujudnya yang khas.

Watak satu bisa jadi aneh wujudnya, seperti kata:

Wani: 'berani' artinya berani karena sifat utamanya maka berwatak satu.

Surya: 'matahari' berwatak satu karena sinarnya menerangi wujud di segala penjuru hingga jelas terlihat.

Kata-kata yang berarti utuh atau keutuhan, mempunyai watak satu karena keutuhannya yang pekat wujudnya, nyata benar ketunggalannya, seperti makna kata nyata, 'benar' dan temen 'jujur' juga berarti satu.

Watak dua:

Netra: 'mata, penglihatan', berwatak dua karena dari watak kewajibannya, yaitu memejam dan membuka (mata). Kata caksu dan pasuluhan, 'ujung mata di dekat hidung dan pangkal mata/sudut mata' juga berwatak dua karena masing-masing mempunyai kotoran berupa tahi mata dan air mata.

Nayana: 'air muka' atau ulat, 'air muka dan kerling mata' sesungguhnya air muka itu berpangkal pada dua hal, yakni baik dan buruk.

Sikara: 'bahu', dan tangan mempunyai dua kewajiban, yaitu menggenggam dan mengembang, maka berwatak dua.

Buja: 'lengan' bahu memang berwatak dua karena dua fungsinya, yaitu mengatupkan gigi dan mengangakan mulut.

Drasthi alis: 'alis', berwatak dua karena mempunyai dua macam tugas yakni mengamankan kedua belah mata serta menghias keindahan roman muka.

Ama atau pasu: 'batang hidung', tulang pangkal hidung antara dua belah mata, mempunyai watak dua karena mendampingi kedua belah mata.

Locana: 'pupil mata', yaitu orang-orangan mata yang menggerakkan mata kanan dan kiri, itulah sebabnya mempunyai watak dua, dan mampu menggerakkan bulu mata. Terbukanya bulu mata, pertama menjadi penglihatannya, kedua mengatupkannya bulu mata, sebagai pelindung mata dari segala kotoran.

Carana: 'hiasan' artinya athi-athi, 'anak rambut di pelipis', watak dua karena anak rambut sebagai penghias muka, pertama, mengalirkan sinar kewibawaan, kedua, mempertajam pandangan mata.

Karna atau talingan: 'telinga'. Pada jaman dahulu telinga dihias dengan sumping dan subang, itu sebabnya berwatak dua.

Karmi: yaitu lebar telinga yang memuat watak dua karena mampu menangkap maksud ujaran dan rasa kata sekaligus. Sedangkan anebah, artinya kelopak mata di bawah bulu mata, di atas orang-orangan mata. Mempunyai dua watak karena mengatur terang dan gelapnya mata, pertama, mengatur terbukanya mata ketika jaga (bangun), kedua, mengatur pejaman mata di kala hendak tidur.

Talingan: 'pendengaran telinga yang sesungguhnya', mempunyai watak dua karena bisa mendengarkan dua hal, baik dan buruk. Dan mata, yang dimaksud adalah lebar penglihatan mempunyai watak dua karena memelihara dua macam kemampuan melihat dengan kejap-kejap mata atau berputarnya bola mata yang hijau warnanya, dan yang kedua kilat atau manik-manik mata yang berwarna putih.

Len tangan artinya tepukan, masukan sedih dan senang, dan bulu sayap, oleh karenanya juga berwatak dua, sebab bisa mebuka mengembang dan merapat menutup. Fungsinya sebagai pencegah dingin dan daya kekuatan terbang.

Nembah, 'menyembah', mengatupkuncupkan kedua belah telapak tangan sambil bersujud duduk meratapkan kedua telapak kaki juga berwatak dua.

Berwatak dua pula tingkah lakunya yang berkecenderungan dengan rasa di dalamnya.

Watak tiga:

Bahni 'api', yang dimaksud api pada perapian pandai besi. Kata bahni bernilai tiga, karena terjadinya api itu berasal dari tiga hal. Pertama, api terjadi karena gesekan pemantik api. Kedua dengan sarana arang. Ketiga, karena ulah angin yang ditiupkan pada ububan. Pawaka 'api', yang dimaksud api dari puncak gunung. Kata pawaka bernilai tiga, sebab berasal dari tiga hal. Pertama, api dari belirang. Kedua, api dari dupa perapian dalam pemujaan dan persamadian. Ketiga, perapian penangkal kedinginan. Siking 'api', yang dimaksud upet atau tunam. Kata siking bernilai tiga karena upet atau tunam itu ada tiga macam, yaitu seludang kelapa, sabut kelapa, dan bunga keluih. Guna, 'api gesekan', terjadi dari tiga hal, dari panas asap, serat alat dan kaul atau rabuk (benda lembut yang mudah terbakar). Dahana 'api', yang dimaksud nyala api. Kata dahana bernilai tiga, karena terjadinya api oleh tiga hal. Pertama, karena desakan udara dengan panas bumi. Dua, karena desakan batu belirang yang berantakan dan menimbulkan nyala api. Kata brana 'luka', pyu 'api' dan paparangan 'pertempuran', masing-masing mempunyai nilai tiga, karena adanya tiga macam sebab. Yaitu karena kesaktian, pertemuan senjata dan sebagainya, serta pembakaran jenazah di medan perang. Kata uta artinya 'lintah' bernilai tiga, lintah bergigi bawah dua dan bergigi atas satu. Tiga gigi itu berguna untuk berpegang, bergerak, dan dapat untuk mencium bau-bauan. Kata ujel artinya 'belut', bernilai tiga, karena mempunyai tiga macam sifat dan daya. Yaitu licin, kuat dan daya membelit. Kata anauti artinya 'cacing', bernilai tiga karena cacing mempunyai tiga macam kemampuan, yaitu melingkar, menjulur dan berkerut. Kata jatha artinya 'api dari tempat perapian'. Kata itu mempunyai nilai tiga, karena perapian terdiri dari api arang, api atau nyala api pada tempat perapian, dan sesuatu daya yang bermanfaat untuk membakar, memanggang dan sebagainya. Api dapur mempunyai tiga pengertian, yaitu api yang hadir karena kayu, tungku dan alas perapian. Kata nalagi artinya 'api panas hati'. Kata itu bernilai tiga,karena hati panas terjadi oleh tiga sebab. Yaitu karena pengabaran 'pemberitaan', pengobong 'pembakar' karena benci, dan pengumbar hawa 'menuruti hawa nafsu marah'. Kata utawaka artinya 'api pemanggang', bernilai tiga karena api pemanggang terjadi oleh tiga unsur. Yaitu kayu, arang dan sujen 'bambu cocok'. Kata kayalena artinya blubukan 'api abu', bernilai tiga karena api abu berguna untuk tiga keperluan. Yaitu untuk ngepes 'membungkus dan membenamnya dalam api abu', mbenem 'memendam sesuatu dalam api abu', dan mbakari 'memasak sesuatu dalam bara api'. Api diyan 'dian, lampu' mempunyai nilai tiga, karena cahaya api itu mempunyai tiga warna, yaitu biru, kuning, dan merah. Akhirnya perlu diketahui geni thithikan 'api yang muncul dari pantikan batu api'. Kata itu mempunyai nilai tiga, karena api itu terjadi oleh batu api, kawul 'benda lembut yang mudah menyala' dan besi baja untuk penggosok atau pemantik.

Watak empat:
Wedang, 'air panas'. Memiliki empat daya, yaitu daya membuat masak, mendidih, bergerak dan berdesir. Sagara 'laut' tempat berkumpul air. Air laut berasal dari empat tempat. Yaitu dari sumber air sungai, air bengawan, air mancur, dan air hujan. Air sumur mempunyai empat kegunaan. Yaitu untuk pangangson 'tempat mengambil air', padusan 'tempat mandi', pengasahan 'tempat mencuci barang-barang' dan pangumbahan 'tempat mencuci pakaian'. Sukci 'air padasan' berguna untuk bersuci dengan berkumur, membasuh muka, dan mencuci tangan dan kaki. Jaladri 'air bergenang'. Air bergenang itu asalnya dari air hujan, air sungai, air yang terbit dari mata air dan air bengawan. Air sungai mempunyai nilai empat, karena sungai menjadi tempat membersihkan badan dengan jalan mandi, menjadi tempat cuci-mencuci, airnya untuk masak-memasak dan memberi minum hewan. Her yaitu 'air puncak gunung', bernilai empat karena di puncak gunung didapat empat macam air, air yang muncul dari bumi, air mancur dan air sumber. Samodra artinya 'air yang mengelilingi dunia'. Empat penjuru dunia dikelilingi samodera, semua dialiri air laut. Jalanidhi yaitu air yang berasal dari hujan, sungai, mata air dan bengawan. Warna yaitu air yang berasal dari hujan, sungai, dan air itu berasal dari rembasan mata air. Toya yaitu 'air pasu' atau 'air jambang' yang berguna untuk membersihkan tubuh dengan mandi, cuci muka, cuci badan, cuci tangan dan kaki. Wahana yaitu 'air hujan' yang berasal dari empat benda yaitu asap api, uap tumbuh-tumbuhan, uap air dan uap bumi. Semua itu sekarang disebut air curah hujan. Air terjadi karena panas, tiupan angin, unsur sinar matahari dan uap embun. Sindu artinya 'air susu'. Kata sindu mempunyai nilai empat, sebab terjadinya air susu karena empat hal. Yaitu karena jamu, bayu 'kekuatan urat', wuwung 'mandi dengan disiram kepalanya' dan sari makanan. Warih artinya 'air kelapa'. Air itu dihantar empat tahap, yaitu sejak bluluk 'mumbang', cengkir 'kelapa muda berlendir', dawegan 'kelapa muda berdaging lunak' dan krambil 'kelapa tua'. Tasik 'air akar, terjadi karena daya tarik, karena empat macam pangkasan akar yang kemudian menjadi air keringat. Itu semua berasal dari panas, angin, air dan tanah. Empat macam air yang dimaksud yaitu air di empat penjuru dunia. Empat penjuru dunia itu berisi air samodera. Jaman yoga terdiri dari empat macam jaman, yaitu jaman tirta, dwara, kali dan karta…

Watak lima:

Buta 'raksasa' , termasuk lima bangsa, yaitu seluman, 'makhluk halus', sebangsa makhluk terbang, sebangsa hewan, dan sebangsa hewan air. Lima jenis makhluk itu dapat bersatu dengan manusia. Pandhawa 'anak raja Pandhu Dewanata'. Lima anak Pandhu Dewanata itu raja Ngamarta, Raden Sena dan Permadi. Mereka saudara seayah dan seibu. Dua lainnya berasal dari lain ibu, yaitu Raden Nakula dan Sadewa. Kata tata artinya getih otot 'darah urat, urat darah'. Urat darah itu bagi penglihatan berkuasa mengatur pramana 'kejelasan pandangan', bagi kaki mengatur duduk atau berjalan, bagi kemaluan mengatur rasa. Kata gati artinya 'denyut', bertempat di pangkal tenggorok, dada, pergelangan tangan, pergelangan kaki dan kemaluan. Endri 'air mata', cairan yang berasal dari hidung, telinga, muka dan hati. Yaksa artinya danawa wadon 'raksasa betina', ia bertaring. Raksasa banci mempunyai lima watak sebab menjadi pemuka empat bupati raksasa dan berjumlah lima bersama dirinya. Sara artinya 'tajam'. Pada jaman dahulu senjata yang disebut sara itu bermuka lima. Maruta 'angin', angin membawa lima bau bunga. Yaitu bunga hujan dari dewa, bunga merah dari taman bunga, bunga bago, bunga sanggul dan bunga jemrik. Pawana artinya 'angin deras'. Angin itu berasal dari empat penjuru angin dan dari atas. Bana 'hutan besar', mempunyai nilai lima karena ular, harimau, serigala, raksasa dan banteng. Margana artinya 'angin di jalan besar', yaitu napas yang keluar dari pancaindra. Samirana artinya 'angin yang membuang keringat di lima tempat, yaitu di dahi, bahu, dada, punggung dan kaki. Warayang artinya 'senjata'. Senjata itu bermata empat dan berujung satu. Bayu adalah nama dewa. Dewa Bayu beranak lima, yaitu raksasa Jajahwreka, Anoman, gunung Maenaka, gajah Setubanda dan Bratasena. Wisikan artinya 'ajaran guru'. Ajaran guru ada lima bab, yaitu kehadiran lima tempat. Gulingan artinya 'tempat tidur'. Orang tidur bersatu lima inderanya. Akhir keterangan yaitu kata-kata siji 'satu', loro 'dua', telu 'tiga', papat 'empat', dan lima 'lima'.

Watak enam:

Sadrasa mempunyai maksud, bahwa yang dinikmati orang ada enam hal, yaitu rasa yang berasal dari nasi, daging, biji-bijian, dedaunan, tumbuh-tumbuhan yang dipangkas atau disadap, dan buah-buahan. Winayang 'labah-labah air'. Binatang itu berkaki enam. Gana 'lebah'. Pada musim keenam lebah bekerja habis-habisan mengumpulkan madu untuk anak-anaknya. Retu 'campur', yaitu campuran keenam keinginan yang tumbuh dari semangat pribadi, hati, kemaluan, penglihatan, tangan dan kaki. Hoyag 'getar', yaitu getaran yang berasal dari sikap berdiri, memandang, mendengar, membau dan merasakan dengan seluruh tubuh. Karengya 'didengar', orang mendengarkan bisikan atau ilham, menerima ajaran baik, memperhatikan kata-kata manis, memperhatikan kata-kata sanjungan. Nama enam jenis buah-buahan yaitu pala kasimpar 'buah terserak: mentimun dan sebagainya, pala baruwah 'buah untuk makan orang yang berpuasa' atau pala kapendhem 'buah terpendam: ubi dsb', pala gumatung 'buah bergantung: mempelam dsb', pala wija 'buah berbiji: kacang dsb', pala kucila 'buah terasing: kelapa dsb'. Pala kirna 'buah bersebar: randu dsb'. Tahen 'kayu tahun', yaitu pohon yang ditebang untuk kayu bakar. Pra batang yaitu pohon tumbang yang melintang di jalan. Bila disimpulkan kayu itu mempunyai enam sifat dan pasti mempunyai enam kegunaan, yaitu untuk tiang dan kerangka rumah, perlengkapan rumah tangga, arca kayu, tempat mendudukkan barang dan untuk kayu bakar. Kilat 'lidah api' atau 'api halilintar'. Enam rasa yaitu kecut 'masam', pedas, pahit, gurih, asin, dan manis.

Watak tujuh:

Ardi 'gunung yang berdiri di sepanjang pantai'. Gunung berisi tujuh macam benda. Yaitu batu, gua, jurang, batu padas, air mancur, lereng dan tumbuhan. Turangga 'kuda', mempunyai tujuh macam pakaian, yaitu kendhali 'kekang', apus 'tali', salebrak 'alas pelana', sanggawedhi 'injak kaki', amben 'tutup perut', ca-methi 'cemeti'. Giri 'gunung besar'. Gunung itu menjadi kandang suara atau gema suara. Resi 'pendeta suci', berpegang pada tujuh macam kesucian, yaitu temen 'jujur', enggan berbuat jahat, enggan berbohong, enggan berbuat yang berbahaya, enggan sanjungan, enggan sesuatu yang kotor, enggan kepada segala perbuatan yang munafik. Angsa artinya banyak 'angsa', banyak suara atau cerewet. Biksuka 'lembu', pada jaman dahulu lembu menjadi kendaraan para biksu atau pendeta. Aldaka 'kaki gunung', mempunyai tujuh ujung bukit. Ibarat kendaraan mempunyai lambung, lubang dan siku kaki. Himawan 'awan', bertempat di puncak gunung, berasal dari tujuh macam uap, yaitu uap dari pendinginan bumi, uap tumbuh-tumbuhan, uap kayu yang dibakar, uap dari barang yang dimasak, uap dari bualan air, uap dari perapian, dan uap dari perdupaan. Pandhita 'pendeta' ada tujuh macam sesuatu yang dimiliki, dipakai, atau dikenakan, yaitu janggut, cunderik, terbus, jubah, selendang, terumpah dan tongkat. Gora swara muni 'suara bunyi dahsyat', tujuh sumber bunyi, yaitu air, bumi, api, angin, halilintar, dan hujan. Bunyi timbul karena ulang tujuh macam bunyi itu. Swa 'kuda', geraknya ada tujuh macam, yaitu nyongklang, medhar, adhean, njojrog, ngawal, nyirig, dan nyander..). Kendaraan untuk mendaki gunung dan pegunungan ada tujuh macam. Antara lain kuda kebiri, lembu belang hitam putih, pedati, kisruki…), kerbau dan jodhi 'tandu'. Wiku yaitu pendeta yang menerapkan tujuh macam ilmu, yaitu ilmu penakluk, ilmu pengasihan, ilmu menghilang, ilmu sopan santun, ilmu tafsir, ilmu nujum, atau ilmu ramal dan ilmu penenang.

Watak delapan:

Naga 'ular besar', mempunyai delapan kekuasaan atau kesaktian, yaitu menyemburkan bisa, menggigit, bergerak, membelit, tahan hidup di dua tempat, mengelupas delapan kali, hidup dari minyak yang berada di ujung ekor. Ada perhitungan baik buruk yang disebut panagan 'tempat kedudukan naga' atau pasaweran 'tempat kedudukan ular'. Yaitu perhitungan yang disebut naga taun, jatingarang, naga wulan, naga pasangaran, naga larangan, naga pangkalan, dan naga dina pasaran..). Slira yaitu binatang yang disebut biawak. Biawak mempunyai kekuasaan dan kesaktian, mampu berjalan di air dan di darat, memanjat dan masuk liang, gemar berpuasa, mengelupas dengan selamat, dan waspada terhadap golongannya. Basu 'tokek', mempunyai kemampuan dan kesaktian delapan macam. Yaitu perekat pada telapak kaki, ditakuti oleh golongannya, berhati sabar dan senang mengelana, berjalan tenang, hatinya berkhasiat untuk mengobati penyakit mengkelan dan sakit datang bulan, mempunyai zat penawar racun, kulitnya dapat mengelupas dan menjadi muda kembali. Tanu 'bunglon'. Mampu menyesuaikan warna kulitnya dalam delapan warna, yaitu merah, hitam, kuning, putih, hijau, biru, kelabu, dan ungu. Murti 'cecak', mempunyai delapan macam kemampuan dan kesaktian, yaitu melekat, memanjat, membela diri, menyelamatkan diri, cekatan berjalan dan berlari, mengeliukkan tubuh dan berganti kulit. Kunjara 'gedung tempat orang hukuman', pada jaman dahulu orang dipenjara dalam batas waktu delapan bulan. Gajah yang tinggal di hutan. Dwipangga yaitu gajah yang dikendarai raja. Perlengkapan raja ada delapan macam, yaitu alat berhias, kalung, alas pelana, kain tutup perut, angkus, rantai, patok pengikat dan pemelihara. Esthi yaitu gajah yang dibawa pesiar. Samadya yaitu gajah di jalan, manggala yaitu gajah pemuka perang, dwipara yaitu gajah yang dibawa untuk bercengkerama raja. Bujangga 'ulat besar', kekuasaannya sama dengan naga. Brahmana, pada jaman dahulu tanah Jawa didatangi delapan brahmana 'berahmana'. Pengatur brahmana itu bernama Ajisaka. Semua brahmana ditugaskan mengajarkan segala macam pengetahuan menurut Asthabrata..). Liman yaitu 'gajah di tonggak pengikat'. Ula 'ular' sama dengan naga.

Watak sembilan:

Trustha 'lubang senjata', trusthi 'lubang sumpit', muka 'dahi', gapura 'pintu raja', wiwara 'ruang serambi', dwara 'pintu rumah dan pekarangan'. Pintu bertopang pada sembilan bagian, masing-masing sama ukurannya. Nanda ialah liang katak air, wilasita ialah liang kumbang, guwa ialah rongga kosong, rago 'liang kosong', gatra 'lubang tempat tinggal riang-riang', leng ialah tempat tinggal ular, rong ialah tempat sembunyi kepiting, song ialah rongga tempat tinggal landak, terusan ialah terowongan atau lubang tembusan. Babahan ialah lubang yang digali oleh pencuri. Hawa sanga yaitu lubang hawa pada tubuh manusia. Lubang hidung seperti lubang sepasang sumpit, lubang mata pada muka, mulut ibarat pintu rumah dalam. Kerongkongan ibarat rongga tempat tinggal binatang berdasar sebab mereka kerasan di tempat itu pada musim sembilan. Maka kata yang mengandung atau mempunyai rongga termasuk bilangan sembilan.

Watak sepuluh:

Boma 'rumput mati', sonya 'kosong', gagana 'kosong', barakan 'samar-samar dan jauh'. Langit 'angkasa', maksudnya ada tetapi sebenarnya tidak ada. Pada jaman dahulu ada sepuluh nama windu dan disebut windu sangkala. Semua ada sepuluh macam, yaitu Tirta, Maruta, Pranala, Pratala, Bala, Byantara, Manta, Kartala, Suribta, Gurita. Langit adanya di angkasa. Yang ada di angkasa yaitu matahari, bulan, bintang, mega, kilat, awan, guntur, angun, hujan, dan bianglala. Yang ada di angkasa itu berwujud suara yang dapat didengar dan berwujud sesuatu yang dapat dilihat di bumi. Kata widik-widik artinya 'samar-samar', maletik 'melompat ke atas', sirna 'hilang' ke angkasa menjadi tidak berwujud. Semua kata yang mempunyai nilai nol yaitu yang hilang dan tidak terlihat wujudnya. Walang 'lepas', kos 'kosong'.

Kata yang bernilai sepuluh adalah yang mengandung makna jauh, tidak jelas, kosong, samar-samar, hilang dan tinggi. Makna diambil dari pengertian, bahwa bundaran angka nol sungguh tidak ada sesuatunya yang berwujud, hanya lingkaran saja, artinya kosong.

Selesailah keterangan dari kitab Candrageni, tetapi orang harus tahu kata-kata kawi dalam Sangkala 'kelompok kata atau kalimat yang mempunyai makna angka tahun'. Ada kata kawi 'sanjak' dan kawya 'penyair'. Rupa dan warna sama artinya, tetapi bagi sangkala rupa juga berarti watak. Warna bernilai empat. Kata ningali dan uniga artinya 'tahu', bagi kata kawi sama artinya, tetapi bagi Sangkala ningali mempunyai nilai angka dua, kata uninga bernilai tiga. Kata suta dan yoga artinya 'anak'. Bila ditinjau sebagai kata kawi artinya sama, bagi Sangkala berbeda. Kata suta mempunyai nilai satu, kata yoga mempunyai nilai empat. Itulah beda kata kawi dalam Sangkala dan dalam bahasa sehari-hari.

Hal 165-181

Ranggasutrasna, Ng, dkk. 1991. Centhini Tambangraras-Amongraga. Jakarta: Balai Pustaka.

2 Responses to “Candrasengkala dalam Serat Centhini”:

  1. Catetan iki apik, Dik. Ayo tansah disengkuyung..

  2. sayidah says:

    hehe, makasih mas, ayo, ayo...